Wartawan Harus Mencari Fakta, Bukan Penerus Hoax
NEWS

Wartawan Harus Mencari Fakta, Bukan Penerus Hoax

Hoax terus muncul dan masuk dalam kehidupan kita. Tak hanya dalam konteks politik, tapi juga isu kesehatan, makanan, dan masih banyak lagi.

“Riset Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Agustus 2018, ditemukan 25 kasus. April 2019 jadi 486,” jelas Sapto Anggoro, CEO tirto.id, salah satu nara sumber dalam Seminar Nasional ‘Media Siber : Good Journalism versus Hoax di Era Post-Truth’ di Harris Hotel and Conventions Gubeng, Surabaya, Sabtu (18/5/2019) sore.

Sapto menilai perubahan budaya komunikasi dunia didorong oleh kekuatan perusahaan internet dan jejaring sosial, yang tidak hanya menggiring pengguna untuk membuat viral dengan keahlian pluralisme informasi. Namun ia juga merobek-robek publik yang mestinya sebagai penjaga etika jurnalistik.

Untuk itu ia setuju dengan pendapat Stanley Adi Prasetyo dari Dewan Pers, tugas wartawan itu adalah mencari fakta dan menemukan kebenaran. Bukan sekadar mewawancarai atau mengutip ucapan.

“Jika nara sumber pertama bilang A, kedua bilang B. Maka kita tidak menemukan fakta apa-apa. Kita hanya mendapat penilaian orang yang bisa saja salah. Seorang wartawan harus mencari tahu,” tegasnya.

Ketua Dewan Pertimbangan dan Pengawas Organisasi Pengurus Nasional Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) ini juga menyangkan, beberapa wartawan suka mengandalkan alat telepon dan Whatsapp untuk wawancara. “Padahal kita tidak tahu juga, kita wawancara dengan siapa. Jangan-jangan yang diomongin juga hoax,” candanya.

Jika wartawan hanya menulis paparan orang tanpa mencari tahu kebenarannya, wartawan juga berpotensi meneruskan hoax.

Untuk itu Sapto memuji upaya sejumlah organisasi dan 22 media yang berkolaborasi meluncurkan CekFakta.com. “Kolaborasi ini upaya menangkal hoaks,” tegasnya.

Organisasi itu adalah Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) dan AMSI. Dijelaskan, kesepakatan itu muncul seiring berlangsungnya acara ‘Trusted Media Summit 2018’ yang digelar 5-6 Mei 2018 di Jakarta.

“Kolaborasi ini cukup efektif untuk mengatasi kebohongan di negara ini. Keefektifan dari inisiatif pengecekan fakta terletak pada independensinya, transparansi, dan kemampuannya untuk merespons dengan segera dan meyakinkan terhadap suatu klaim,” jelas sapto di depan peserta seminar yang digelar sebagai puncak rangkaian acara 2 tahun AMSI.

Selain Sapto, seminar juga menghadirkan Suko Widodo, dosen Universitas Airlangga, dan Dwi Eko Lokononto, Pimpinan Redaksi Beritajatim.com. Seminar dipandu Vika Wisnu, penulis dan dosen di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. (hdl)

Komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.