Sudah Siapkah Televisi Indonesia Hadapi Disrupsi Digital?
NEWS

Sudah Siapkah Televisi Indonesia Hadapi Disrupsi Digital?

“YouTube lebih dari TV… Sebentar lagi posisi kita berganti… Tapi jangan bawa perasaan, lihat juga keadaan… Digital itu kenyataan,” begitu lirik lagu GGS (Ganteng-ganteng Swag) yang dibawakan Young Lex dan sejumlah Youtubers pada 2016 lalu.

Bagi Young Lex, para Youtubers, dan mereka yang segenerasi, hal itu boleh jadi benar adanya.

Siapa sih yang hari ini lebih banyak nonton televisi ketimbang pegang ponsel? Pola konsumsi media yang hari ini bergeser ke digital sedang berlangsung di Indonesia. Implikasinya, para pemain di industri tayangan konvensional mulai kelabakan.

“Abis kamu gak pernah nonton tv sihhh..” kicau akun Twitter NET TV @netmediatama membalas kesedihan warganet akan dihentikannya sejumlah program andalan NET sejak awal tahun ini.

NET TV menjadi stasiun televisi pertama yang terpukul akan tren digital. TV masa kini yang ditujukan untuk mereka yang berusia muda itu kehilangan penontonnya.

Imbasnya, sejumlah program dihentikan. Karyawannya dirumahkan dan bironya di Jawa Tengah dan Jawa Timur ditutup.

Industri TV terlambat

Pengamat media Universitas Indonesia Amelia Hezkasari Day menilai beralihnya masyarakat ke digital bukan berarti orang menghilangkan kebiasaan menontonnya. Mereka hanya beralih medium.

“Orang pada satu titik suka NET tapi trennya sekarang semua orang bisa bikin konten,” kata Amelia kepada Kompas.com, Jumat (16/8/2019). Ia menilai dalam hal adaptasi terhadap disrupsi digital, industri televisi boleh dibilang terlambat.

Dari sisi teknologi saja, Indonesia belum mampu mengalihkan siaran televisi dari analog ke digital. Di saat negara-negara lain di dataran Eropa dan Amerika sudah mematikan sinyal analognya sebelum 2010, Indonesia baru merencanakan akan benar-benar menghentikan analog pada Juni 2020. Belum lagi dari sisi konten. Tayangan televisi tak lagi menarik bagi generasi muda.

“Hiburan murni terlambat karena consumer behaviour sekarang sudah sangat segmented. Udah enggak bisa di-blast satu konten untuk semua se-Indonesia,” ujar Amelia.

Amelia menilai salah satu hal yang bisa dicoba industri televisi yakni dengan membuat tayangan-tayangan singkat serupa di Youtube.

Pendapat yang sama disampaikan Ketua Bidang Industri Penyiaran Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Hardijanto Saroso.

Menurut dia, pola konsumsi sekarang makin personal alih-alih umum untuk dinikmati bersama-sama seperti dulu. Dari sisi durasi, tayangan berdurasi lama pun makin tergerus dengan tayangan dengan durasi singkat.

“Sekarang sukanya makin beda-beda. Udah enggak ada long hours viewing. Paling kalau nonton bola, final badminton, atau tinju saja,” ujar Hardijanto.

Agar mampu bertahan, industri televisi perlu mengbah format tayangannya. Misalnya, dengan memperbanyak citizen journalism atau jurnalisme warga.

Selain memperkaya konten dan mengikuti selera penonton, mengandalkan jurnalisme warga dinilai akan lebih hemat dari sisi produksi. Langkah ini diterapkan NET TV setelah biro Jawa Tengah dan Jawa Timurnya ditutup.

“Itu adalah public contet generator, itu tidak di-generate oleh televisi tapi di-generate oleh komunitasnya,” kata Hardijanto.

Hal yang sama juga berlaku bagi tayangan yang sifatnya hiburan. Para pelaku industri hiburan kini punya channel dan program YouTube sendiri alih-alih hanya mengandalkan syuting televisi.

Belajar dari Nexmedia

Selain televisi gratis, televisi berbayar atau televisi kabel juga terdampak disrupsi digital. Yang pertama tumbang: Nexmedia milik grup EMTEK. Nexmedia pamit bakal undur diri pada akhir bulan ini, 31 Agustus 2019, setelah delapan tahun siaran.

Tak diketahui persis apakah penutupan disebabkan turunnya jumlah pelanggan. Namun Presiden Direktur PT Mediatama Anugrah Citra (Nexmedia) Junus Koswara membenarkan tren digital yang menguat menggerus bisnis tayangan konvensional.

Untuk itu, grup EMTEK akan mengalihkan tayangan premiumnya ke layanan streaming vidio.com.

“Sejak beberapa waktu lalu, kami sudah memperkenalkan layanan berbayar berlangganan melalui platform OTT Vidio Premier. Kami yakin bahwa OTT merupakan platform yang lebih tepat untuk memberikan berbagai layanan kepada pengguna dengan makin mudah akses layanan internet di seluruh Indonesia,” kata Junus.

OTT yang dimaksud yakni over the top media service. Media streaming berbasis internet. Contohnya Netflix, iFlix, Hulu, Amazon Prime Video, Sling TV, HBO Go atau HBO Now, hingga Youtube TV yang berbayar.

Vidio.com boleh jadi contoh bagus persiapan industri media seperti EMTEK menunggangi era digital.

Layanan itu menyediakan berita-berita dari SCTV, sinetron azab dari Indosiar, serta puluhan film yang butuh akses berlangganan.

Next Gen TV

Menurunnya penonton televisi baik gratis maupun berbayar belum tentu akan jadi akhir bagi industri televisi. Di Korea Selatan dan Amerika Serikat, sistem penyiaran televisi digital Advanced Television Systems Committee (ATSC) tengah dikembangkan menjadi 3.0 atau Next Gen TV.

Dilansir dari atsc.com, Next Gen TV tak cuma membawa gambar yang lebih bagus dengan saluran yang lebih banyak tapi juga akan bekerja seperti OTT yang bisa dikustomisasi sesuai keinginan penggunanya.

“Misalnya saat balapan NASCAR, penonton bisa memilih ingin mendengar radio dari pengemudi yang dijagokannya, dan juga menyesuaikan audio untuk mengurangi gangguan suara. Singkatnya, penonton bisa mengontrol konten suara dan mix,” kata Dave Siegler, Direktur ATSC.

Rencananya, siaran televisi gratis yang menggunakan teknologi ATSC 3.0 ini bakal bisa dinikmati di ponsel, tanpa sambungan internet. Teknologi ini telah disetujui Federal Communications Commission, komisi penyiaran Amerika Serikat.

Sejumlah pemain industri media tengah mengembangkannya. Diperkirakan teknologi ini baru bisa dinikmati khalayak dua hingga tiga tahun lagi. Sampai tiba saatnya, industri televisi harus mengubah format bisnisnya agar bisa bertahan di era disrupsi digital.

sumber : kompas.com

Komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.