Pandemi Covid-19, Nasib Media Penuh Ketidakpastian
PUBLICATIONS

Pandemi Covid-19, Nasib Media Penuh Ketidakpastian

Sekretaris Jenderal Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika menegaskan, pihaknya mendukung penuh tujuh butir insentif bisnis media. Sebab pandemi Covid-19 mengakibatkan penurunan pendapatan media daring selama dua bulan terakhir. Wahyu menyatakan nasib media-media daring penuh ketidakpastian.

“Kami mendukung penuh seruan ini, karena berdasar survei 300 anggota AMSI di 19 provinsi, telah terjadi penurunan pendapatan cukup signifikan dua bulan terakhir. Ada ketidakpastian mengenai nasib media-media daring di seluruh Indonesia dalam tiga bulan ke depan,” kata Wahyu dalam diskusi virtual bertajuk “Selamatkan Warga, UMKM, Dunia Usaha, dan Pers Indonesia”, Kamis (14/5/2020).

Menurut Wahyu, ketidakpastian ini bisa berdampak terhadap menurunnya kualitas informasi yang kredibel untuk publik di masa pandemi. Wahyu menuturkan ketiadaan pers lokal dan industri media untuk bertahan dapat memengaruhi ekosistem informasi di Indonesia.

“Kita tahu bersama situasi pandemi ini penuh ketidakpastian, kesimpangsiuran, hoax, dan disinformasi. Di saat-saat sepert ini peran media, pers sangat penting sebagai penjernih informasi. Semua insan pers jurnalisme di negeri ini ingin yang terbaik, memastikan hanya informasi akurat yang disampaikan,” ujar Wahyu.

Wahyu berharap pemerintah dapat merespons tujuh butir insentif bisnis media. “Memberikan insentif relaksasi hanya untuk masa pandemi. Saya pikir itu kebijakan yang produktif untuk publik, karena melalui penyebaran informasi, kita semua sama-sama berusaha melalui periode pandemi ini dengan selamat,” tegas Wahyu.

Seperti diketahui, Dewan Pers bersama Asosiasi Perusahaan Media dan Asosiasi Profesi Media mengeluarkan tujuh butir insentif bisnis industris media. Salah satunya mendorong negara untuk tetap mengalokasikan dana sosialiasi kebijakan, program, atau kampanye penanggulangan Covid-19 baik di tingkat pusat maupun daerah untuk perusahaan pers.

“Kampanye besarma ini menjadi salah satu alternatif harapan dan perlu terus kita perjuangkan. Bukan kita menempatkan di bawah hegemoni pemerintah. Kita akan lihat kematangan pemimpin negara melihat salah satu pilar dalam kondisi akut,” kata Ketua Umum (ketum) Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Firdaus dalam diskusi tersebut.

Ketum Asosiasi Jurnalis Indpenden (AJI) Abdul Manan mengatakan insan pers tentu saja ikut terdampak akibat pandemi. “Kami juga sudah mendengar laporan, meski usia krisis ini baru dua bulan, tapi dampaknya sudah sangat luar biasa. Dampak di luar Jakarta sudah jauh luar biasa, PHK (pemutusan hubungan kerja) telah terjadi karena media tutup,” kata Abdul.

Abdul pun menyebut, “Ada yang sudah bekerja tapi tanpa digaji. Dua bulan saja kondisinya seperti ini, kita tidak membayangkan bagaimana enam bulan ke depan. Sementara kita tahu peran media penting dalam masa pandemi, media membantu pemerintah supaya warga mengikuti kebijakan-kebijakan pemerintah baik itu physical distancing dan PSBB.”

sumber : beritasatu.com

Komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.