Mengenal Tujuh Jenis Hoaks
NEWS

Mengenal Tujuh Jenis Hoaks

Tidak semua informasi yang memungkiri fakta cukup disebut hoaks. Secara spesifik, ada tujuh jenis informasi palsu yang bisa dikenali melalui ragam dan cirinya yang berbeda-beda.

First Draft, sebuah organisasi nirlaba yang mendukung jurnalis, akademisi, dan teknolog dalam upaya pemberantasan hoaks di era digital memasukkan ketujuh jenis informasi palsu itu ke dalam dua kategori besar. Yakni, disinformasi dan misinformasi.

Hal itu, menurut koordinator riset First Draft Claire Wardle dalam artikel berjudul Fake news. It’s complicated(2017), lantaran bisa diukur dari tiga sudut.

Pertama, jenis konten yang dibuat dan dibagikan. Kedua, motivasi pembuatan dan penyebaran. Ketiga, cara penyebaran. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) membagi hoaks ke dalam dua klasifikasi. Yakni, klasifikasi umum dan akademis.

Klasifikasi umum, menurut Mafindo dalam artikel “Metode Klasifikasi Hoax”, adalah sebuah pengelompokan yang bersifat sederhana dan gampang dipahami masyarakat ramai. Yakni, sekadar memasukkan sebuah informasi ke dalam kategori hoaks atau benar.

Sementara dalam klasifikasi akademis, Mafindo juga mengacu pada 7 jenis hoaks yang dikategorikan First Draft.

Berikut adalah 7 jenis misinformasi dan disinformasi terebut:

Satire atau parodi
Konten jenis ini biasanya tidak memiliki potensi atau kandungan niat jahat, namun bisa mengecoh.

Satire merupakan konten yang dibuat untuk menyindir pada pihak tertentu. Kemasan konten berunsur parodi, ironi, bahkan sarkasme. Secara keumuman, satire dibuat sebagai bentuk kritik terhadap personal maupun kelompok dalam menanggapi isu yang tengah terjadi.

Sebenarnya, satire tidak termasuk konten yang membahayakan. Akan tetapi, sebagian masyarakat masih banyak yang menanggapi informasi dalam konten tersebut sebagai sesuatu yang serius dan menganggapnya sebagai kebenaran.

Misleading content (konten menyesatkan)
Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.

Misleading contentdibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.

Imposter content (konten tiruan)
Imposter content terjadi jika sebuah informasi mencatut pernyataan tokoh terkenal dan berpengaruh. Tidak cuma perorangan, konten palsu ini juga bisa berbentuk konten tiruan dengan cara mendompleng ketenaran suatu pihak atau lembaga.

Fabricated Content (konten palsu)
Fabricated content terbilang menjadi jenis konten palsu yang paling berbahaya. Konten ini dibentuk dengan kandungan 100% tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara fakta. Biasanya, fabricated content berupa informasi lowongan kerja palsu dan lain-lain.

False connection (koneksi yang salah)
Ciri paling gamblang dalam mengamati konten jenis ini adalah ditemukannya judul yang berbeda dengan isi berita. Konten jenis ini biasanya diunggah demi memperoleh keuntungan berupa profit atau publikasi berlebih dari konten sensasional.

False context (konteks keliru)
False context adalah sebuah konten yang disajikan dengan narasi dan konteks yang salah. Biasanya, false context memuat pernyataan, foto, atau video peristiwa yang pernah terjadi pada suatu tempat, namun secara konteks yang ditulis tidak sesuai dengan fakta yang ada.

Manipulated content (konten manipulasi)
Manipulated content atau konten manipulasi biasanya berisi hasil editan dari informasi yang pernah diterbitkan media-media besar dan kredibel. Gampangnya, konten jenis ini dibentuk dengan cara mengedit konten yang sudah ada dengan tujuan untuk mengecoh publik.

sumber : medcom.id

Komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.